jump to navigation

Balikpapan dan Mati Listrik 26 Desember, 2013

Posted by husnukusuma in Uncategorized.
Tags: , ,
trackback

//Balikpapan, 26 Desember 2013

Sudah lebih dari satu tahun saya tinggal di Balikpapan, pindah dari Ibukota Jakarta. Hal yang berbeda di kota Balikpapan adalah jalanan yang relatif lancar (lebih sedikit macet), kota yang bersih, dan berudara segar. Namun ada hal yang tidak sepantasnya terjadi di Balikpapan, yaitu mati listrik yang seringkali terjadi. Sudah wajar jika banyak rumah, toko, maupun mall untuk memiliki genset sendiri, karena mati listrik sudah menjadi kebiasaan. Bahkan saat saya menulis ini, sedang mati listrik.

Hal ini ironis mengingat provinsi Kalimantan Timur dikaruniai begitu banyak kekayaan alam, terutama sumber energi. Provinsi ini adalah eksporter LNG terbesar Indonesia melalui PT Badak di Bontang. PT Badak sudah mendapat gelar bergengsi ISRS7 level 8 yang membuktikan betapa hebatnya manajemen PT Badak dalam hal menangani quality, health, safety, dan environment. Di Kalimantan Timur juga bertebaran perusahaan minyak dan gas (Migas) ternama, seperti Chevron, Total E&P, Pertamina, Medco E&P dan Vico. Lapangan Migas di Kalimantan Timur tersebar dari utara sampai selatan, di darat maupun laut. Selain Migas, batubara di Kaltim juga ditambang berbagai perusahaan, banyak kita jumpai berbagai alat berat di darat dan kapal pengangkut batubara di sepanjang sungai Mahakam.

Sudah wajar kita bertanya, dengan kekayaan alam yang melimpah seperti itu – tidak kalah dari Brunei Darusalam – kenapa menyediakan aliran listrik yang reliable atau handal saja sulit? Sungguh sangat ironis. Padahal dana seharusnya tidak ada masalah. Kekurangan tenaga ahli? Kenapa tidak minta bantuan ke perusahaan kelas dunia yang saya sebut di atas? Saya yakin banyak sekali tenaga ahli di dalam perusahaan tersebut untuk urusan pembangkitan listrik, bahkan kalau perlu, tenaga ahli bidang perawatan juga banyak tersedia di mereka.

Di tengah kota Balikpapan, terdapat pembangkit listrik tenaga diesel yang bising dan membuat getaran yang mengganggu di lingkungan sekitar pembangkit tersebut (dimana banyak warga tinggal). Aneh sekali, di daerah kaya gas bumi, pembangkit menggunakan diesel. Di tengah upaya pemerintah pusat melakukan konversi ke BBG, PLN Balikpapan masih menggunakan diesel.

Jadi dari pandangan masyarakat umum seperti saya, jelas hal ini dikarenakan tidak ada keinginan atau willingness dari Pemerintah dan PLN untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. Saya sudah lama mendengar kondisi Balikpapan yang sering mati yang berarti kondisi seperti ini sepertinya dibiarkan. Saya pernah melihat slide presentasi dari salah satu kementrian di Indonesia yang menyebut angka elektrifikasi di Indonesia sudah cukup tinggi. Sayang, slide tersebut tidak menyebutkan berapa sering mati listrik terjadi.

Di aspek lain yang saya amati, adalah pendidikan masih kurang menjadi fokus. Idealnya Balikpapan adalah Texas-nya Indonesia, kiblat pendidikan Migas berada (karena dekat dengan sumber Migas). Texas memiliki Texas A&M yang harum namanya di industri perminyakan. Balikpapan saat ini sudah memiliki STT Migas, yang diharapkan mampu mencetak Sarjana Perminyakan yang berkualitas dan kompeten. Saya pernah diundang untuk mengisi kuliah tamu di kampus STT Migas dan terenyuh ketika mengetahui mereka tidak memiliki laboraorium dan hanya melihat video untuk praktikum. Sangat jauh dengan kampus ITB yang saya tahu memiliki lab bagus, bisa melakukan simulasi berbagai hal, bahkan analisis core pun bisa.

Harapan penulis, semoga berbagai pihak sadar, lebih berperan dalam memajukan kota Balikpapan dan Kalimantan Timur pada umumnya. Mari!

Komentar»

1. aldiparis - 27 Desember, 2013

Husnu,

Wah senang dirimu muncul di dunia wordpress..anyway, itulah Balikpapan, setali tiga uang dengan Pekanbaru dan Palembang. Mati listrik adalah hal yang lumrah. Domain masalah ini bukan hanya di perusahaan migas, namun juga pemerintah sebagai master stakeholder punya peranan sangat besar disana. Satu-satunya kota tambang yang bisa survive dari masa transisi produksi ke non-produksinya cuma Sawahlunto. Malahan tahun 2008 kemarin sudah dinobatkan sebagai salah satu World Heritage City oleh UNESCO. Dalam artian, pemerintah setempat cerdik dalam melihat potensi kota, dan disulap untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Di sana jarang banget mati lampu..piye nang kono Nu?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: