jump to navigation

Bisnis yang Ideal 14 April, 2013

Posted by husnukusuma in Uncategorized.
trackback

Dikatakan bahwa yang orang yang paling baik adalah yang paling berguna atau bermanfaat bagi orang lain. Memiliki bisnis adalah salah satu cara berguna bagi orang lain (dalam skala yang besar). Sejak zaman kuliah, memiliki bisnis sendiri adalah sebuah cita-cita. Dulu di kuliah manajemen Inovasi, Prof. I Gede Raka meminta kelas untuk maju menulis ide bisnis apa yang mereka miliki. Wow, papan tulis waktu itu dengan cepat terisi penuh (dengan ide-ide ngasal, hehehe).

Seiring waktu, setelah bertahun-tahun meninggalkan idealisme kuliah, berikut adalah beberapa konsep bisnis yang ideal yang saya rangkum dari berbagai sumber:

  1. Scalable

    Konsep ini ada di buku Black Swan-nya Nassim Taleb. Konsep ini cukup sederhana. Misalnya Anda adalah pemotong rambut, maka jika Anda tidak bekerja (memotong rambut), maka tidak ada income yang datang. Atau jika Anda adalah seorang chef di suatu restoran, maka kehadiran Anda secara fisik diperlukan untuk membuat masakan terkenal Anda. Lain halnya dengan band, let’s say Peter Pan, eh Noah, untuk mendengar lagu mereka, kita cukup menggunakan tape (jadul banget ya?) atau mp3 player (ipod, dll). Kriteria kunci untuk scalable adalah leverage. Secara harfiah leverage berarti daya ungkit. Dalam hal ini industri musik memiliki leverage, yaitu alat rekam (CD, mp3, kaset, dll). Ada hal lain yang cukup unik di industri seperti musik, karena leverage yang mereka miliki, misalkan Anda adalah Artis yang baru muncul, saingan Anda selain artis baru lain, juga artis yang sudah ngetop (Britney Spears atau Agnes Monica), artis yang lama (Aerosmith atau Iwan Fals), atau bahkan yang sudah mati (Michael Jackson, atau mungkin juga Beethoven).

    Ciri bidang yang non-scalable sekali lagi adalah kehadiran fisik diperlukan. Ciri yang scalable adalah memiliki leverage (suatu sistem yang mengungkit usaha tersebut).

    Bisakah Anda sebutkan contoh lain untuk konsep ini? J Oh iya, pramugari dan pilot adalah non-scalable.

     

  2. Blue Ocean

    Konsep dari buku terkenal berjudul sama. Jadi analogi untuk konsep ini adalah misalkan kita adalah ikan di laut, memperebutkan suatu mangsa (suatu pasar), dan ada banyak ikan lain memperebutkan mangsa itu (saingan usaha), maka sesama ikan akan saling mencederai (berkompetisi) dan darah dari ikan-ikan membuat laut menjadi merah (red ocean). Di tempat lain, ada ikan yang mangsanya banyak, dan saingan sedikit atau tidak ada, tidak terjadi saling mencederai sesama ikan dan lautnya biru (blue ocean strategy).

    Intinya, milikilah bisnis di blue ocean, di mana service kita spesifik atau inovatif, belum banyak atau tidak ada pesaing. Contoh baik dari Blue Ocean adalah Google, di mana di pangsa search engine, nyaris tidak ada persaingan berarti dari pesaingnya. Atau beberapa perusahaan engineering kecil yang saya tahu juga tampak bergerak di area Blue Ocean.

     

  3. Technology Push & Market Pull

    Konsep ini saya dapat di kuliah yang saya ceritakan di atas. Prof. Gede Raka menggambar seperti ini di papan tulis:

    Seperti saya terangkan di posting yang dulu, contoh dari market pull adalah beras, bensin/solar, dll. Contoh dari technology push adalah Windows terbaru, Android /iPhone/BB terbaru, dll. Sisi Technology push sangatlah kental dengan inovasi, namun di balik itu terdapat potensi keuntungan yang menarik juga. Coba lihat lampu di atas Anda, mungkin sebagian sekarang sudah menggunakan lampu hemat energi, dan yang baru adalah lampu “torpedo” yang bentuknya muter-muter. Ini juga salah satu bentuk technology push. Di mana ada celah untuk improvement, di situ technology push siap mengisi.

  4. Irisan antara passion, skill, dan Market (kemampujualan)

    Saya lupa konsep ini dari mana, kalau tidak salah dari salah satu audio book yang saya dengar. Intinya adalah, idealnya, kita menggeluti bidang yang sesuai passion dan skill/keahlian, dan mampu dijual. Misalkan passion Anda adalah menjadi pelukis, tapi skill Anda adalah bela diri, dan pekerjaan sebagai penjual bakso. Kan kurang nyambung, hehehe… Kalau kita lihat misalnya Steve Jobs, unsur passion, skill, dan marketnya sepertinya cocok.

    Ngomong-ngomong tentang skill, sebenarnya bisa dilatih, tapi beberapa orang sudah kadung masuk ke satu jurusan kuliah yang mungkin kurang sesuai passion-nya. Saya tahu beberapa teman yang berhenti kuliah karena (mungkin) hal ini.

    Tentang passion, kalau kita merujuk ke 8th habit, yaitu ikuti “your voice” atau panggilanmu. Maka ini adalah passion di level paling tinggi. Di mana idealisme berdiri tegak. Saya iri dengan orang-orang yang sudah menemukan dan mengikuti panggilan mereka, seperti dokter yang memilih ke Papua, relawan perang, dll.

Jadi kalau boleh saya simpulkan, bisnis yang ideal adalah: Yang scalable, di wilayah blue ocean, bidang technology push, dan di area yang merupakan irisan antara passion, skill, dan market availability. Terlalu banyak dipikir ya? Some might say “just do it”. Kata seorang pengusaha terkenal “pendidikan adalah racun”, maka dia sekolahkan anak2nya tidak terlalu tinggi. Mungkin agar menjadi risk taker kali ya?

Statistik menyatakan bisnis baru dan berhasil survive adalah hal yang berkemungkinan kecil. Yang gagal jauh lebih banyak. Di buku Antifragile, Nassim Taleb menyebutkan kita semua harus berterimakasih juga ke yang gagal-gagal ini. Karena mereka adalah sumber dari “antifragility” ekonomi. Saya setuju sekali. Terimakasih para pemberani yang sudah mencoba berbisnis.

 

 

Komentar»

1. sisko - 15 April, 2013

jadi,..kapan mulai berbisnis mas? ojo kakehan mikiiirr hehehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: