jump to navigation

Teknologi Indonesia 12 April, 2012

Posted by husnukusuma in Technology.
Tags: , , ,
trackback

Pada waktu saya mencari program “kalkulator” untuk smartphone Android saya, pilihan saya jatuh pada sebuah program scientific calculator yang mendapat review sangat baik di Android Market. Setelah selesai proses install, saya coba program tersebut, dan memang sangat enak digunakan. Iseng saya coba lihat pembuatnya, tertulis nama seseorang, namun yang membuat saya terkejut adalah baris di bawah namanya: Computer Science And Engineering, Birla Institute of Technology, Mesra. Ini Institut di Negara mana? Kok saya baru dengar namanya? Penasaran saya cari lewat Google apa itu Birla Institute of Technology. Ternyata Institut tersebut ada di India dan menempati ranking 13 nasional. Info di Wikipedia juga menjelaskan fasilitas apa saja yang dimiliki Institut tersebut, mereka punya super computer, central computer aided design laboratory, dll., yang sepertinya “wah”.

Saya cek lagi referensi ranking Institut teknologi di India, yang menempatkan (Indian Institutes of Technology) IIT di nomor 1. Ternyata sangat mudah membandingkan berbagai institut teknologi di India, salah satu yang saya baca adalah dari Outlook India, di mana tercantum juga list instansi yang memperkerjakan lulusan dari Institut-institut teknologi di India. Informasinya tersusun dengan baik dan jelas. Saya jadi merasa iri, sepertinya belum pernah ada benchmark seperti itu di Indonesia.

Hal yang menjadi concern saya adalah kondisi Institut Teknik di Indonesia. Membandingkan artikel tentang Birla Institute of Technology dengan Institut Teknologi Bandung di Wikipedia, rasanya kok dalam tulisan lebih baik Birla. Itu membandingkan nomor 13 India dengan nomor 1 Indonesia.

Menatap masa depan, rasanya gamang melihat kesiapan Indonesia. Tanpa penguasaan teknologi maju, Indonesia akan (lebih) menjadi Negara pengekspor kekayaan alam dan buruh tidak terampil. Kekayaan alam akan semakin menipis. Nasib buruh akan ditentukan majikan.

Jika menilik ke belakang, pada perang dunia, baik PD satu dan dua adalah arena demo teknologi. Bagaimana Jerman yang secara teknologi unggul di perang dunia ke 2 mampu menguasai Belanda (yang menjajah Indonesia 350 tahun) hanya dalam beberapa hari. Juga kita lihat bagaimana tentara Sekutu mengebom pabrik bantalan (bearing) Jerman merupakan salah satu kontributor kekalahan Jerman.

Pada saat ini memang Indonesia sudah merdeka. Tapi terlena. Kemajuan ekonomi jangka panjang suatu bangsa, adalah seiring dengan penguasaan teknologi mereka. Scott Adams, kartunis Dilbert yang ditampilkan Kompas, dengan canda membuat suatu rasio E/L, yaitu perbandingan jumlah insinyur (engineer) dengan pengacara (lawyer). Nilai E/L yang tinggi dari suatu bangsa akan menjamin kemakmuran bangsa tersebut. Hal ini merupakan kekesalannya dengan pemerintah Amerika yang mempunya begitu banyak lawyer, tapi masalah ekonominya menumpuk.

Nilai tambah (added value) adalah hasil nyata dari teknologi. Tanpa nilai tambah, ekonomi akan seret. Bagaimana bijih besi menjadi mobil, gas alam menjadi LPG dan pupuk, minyak bumi menjadi bensin, solar dan pelumas adalah proses berteknologi. Teknologi erat sekali di kehidupan kita. Tapi kita sepertinya masih belum serius memajukan sekolah teknologi.

Bangsa seperti Cina sadar betul pentingnya penguasaan teknologi. Kita lihat presiden Cina saat ini adalah insinyur sipil, perdana mentrinya seorang geologist. Di bidang IT Cina juga membuat Facebook sendiri dan mempunyai Google sendiri (Baidu). Juga tak lupa, Cina membuat sendiri telepon genggamnya.

Cina di 2004 telah mengoperasikan kereta Maglev (kereta melayang secara magnetik berteknologi Jerman). Kereta dengan kecepatan maksimum 501 km/jam dan kecepatan operasi normal 430 km/jam. Digunakan untuk jarak 30 km waktu tempuhnya sekitar 8 menit. Coba kita lihat industri kereta api kita (istilah kereta api juga sepertinya kurang tepat untuk kereta listrik – karena apinya tidak ada), pernahkah Anda melihat iklan lowongan kerja PT. Kereta Api Indonesia di koran? Saya kok belum pernah. Tanda industri berkembang adalah ekspansi dan rekruitmen (untuk regenerasi). Jadi bagaimana industri kereta api kita mau maju jika berlomba mendapatkan lulusan terbaik perguruan tinggi tidak dilakukan?

Di buku $20 per Gallon, Christoper Steiner menulis bahwa di masa depan, pada saat harga minyak dunia tinggi, pilihan jatuh pada mobil listrik dan kereta listrik. Listrik bisa dibangkitkan dengan berbagai cara: minyak bumi, gas, batubara, angin, matahari, ombak, nuklir, dll. Skenario energi apapun di masa depan, ujungnya adalah upaya menghasilkan listrik. Sektor energi berpotensi membuat kerusuhan di Indonesia. Bensin dan solar murah seakan menjadi barang wajib ada. Bayangkan jika suatu saat masyarakat harus membeli bensin mahal akibat Pemerintah tidak bisa lagi memberi subsidi? Bagaimana reaksi masyarakat yang terbiasa sekali dengan bensin murah? Tidak hanya di kota, di desa-desa yang mulai tergantung pada sepeda motor untuk beraktivitas juga terkena imbasnya dan tanpa skenario energi yang baik, kekisruhan akan terjadi.

Khusus untuk energi nuklir, Bill Gates, salah satu orang terkaya di dunia, bersama timnya saat ini mengembangkan fasilitas nuklir generasi ke-4, yang menurutnya dengan mudah menghindari risiko kecelakaan seperti yang terjadi di Fukushima, Jepang (fasilitas nuklir generasi kedua). Tim Bill Gates, telah mensimulasikan berbagai bencana – dengan computer – yang mungkin terjadi pada fasliltas nuklir baru. Bill Gates memperkirakan di 2030, sudah banyak fasilitas nuklir generasi ke empat yang beroperasi di dunia. Juga secara unik Bill Gates mengungkapkan bahwa dibandingkan 20 tahun yang lalu, jumlah IQ yang bekerja di sektor energi bagaikan siang dan malam. Menarik sekali, menggunakan IQ instead of jumlah orang.

Secara power density, nuklir sepertinya tidak terelakkan untuk digunakan. Di Indonesia perkembangan energi ini juga seakan mandek. Terutama rencana penempatannya di wilayah Jawa, di mana 60% penduduk Indonesia tinggal. Mungkin memang secara risiko lebih baik dibangun di luar Jawa. Seperti pepatah “Ada gula ada semut”, maka dengan adanya infrastuktur energi yang baik di luar Jawa, akan menarik sebagian industri dan masyarakat yang saat ini tinggal di Jawa untuk pindah.

Tapi bagaimana, apakah kita sudah siap dengan transisi yang akan terjadi? Apakah generasi mobil listrik berikutnya kita juga akan jadi pembeli saja? Apakah solusi kemacetan dengan kereta kecepatan tinggi kita juga akan gunakan jasa asing? Apakah untuk membangun infrastruktur energi baru kita juga akan impor teknologinya?

Sesuai ayat ke-2 pasal 33 UUD 1945: “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.” Menurut penulis, teknologi saat ini sudah menguasai hajat hidup orang banyak. Memasak nasi sudah menggunakan magic jar, yang menggunakan listrik. Menggoreng menggunakan LPG. Ke sawah menggunakan sepeda motor dengan bensin. Sawah dipupuk dengan urea dari gas alam.

Jadi teknologi adalah hal yang wajib dikuasai Negara. Institut Teknologi adalah harapan dalam hal tersebut. Walau ada beberapa tokoh dunia yang tidak lulus perguruan tinggi, seperti Bill Gates dan Steve Jobs, tapi mereka telah sempat mendapat sentuhan perguruan tinggi. Ada juga tokoh seperti pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin yang membuat perusahaannya dengan ilmu dari studi S3 mereka.

Dalam buku What I Wish I Knew When I Was 20, professor Tina Seelig menjelaskan bagaimana mereka menanamkan semangat entrepreneurship di Stanford’s School of Engineering. Bisnis besar memerlukan teknologi hebat. Teknologi berkembang di komunitas praktisi yang dirintis di perguruan tinggi.

Jika Indonesia memiliki semakin banyak Institut Teknologi yang bermutu, maka tantangan di depan akan kita hadapi dengan optimisme.

— post ini niatnya dikirim ke Kompas, hehehe

 

Komentar»

1. Ahli Smartphone - 12 April, 2012

Mas Husnu,
Articlenya mantap,
saya buat jawaban saya di blog saya:
http://ponselexpert.wordpress.com/2012/04/12/indonesia-leader-atau-follower/

2. Frederica Aditya - 25 April, 2012

di negeri sendiri lahan pertanian luas, tanah vulkanik nya subur SDA nya lbh banyak dari yg lain
bgamna bisa terjdi ???…….
Pasarnya diserbu dan didominasi buah impor dari RRC yg produksinya berlimpah (dn berkualitas bagus jg)
Kedelai ,sweet corn, apel washington impor dari USA
produk pertanian dan buah yg berkualitas disebut jambu Bangkok duren Bangkok
ada apa dg kualitas dan mutu produk pertanian/buah negeri sendiri….seburuk itukah ????
Produk teknologi otomotif,elektronik,aeronotik,mesin pabrik kualitasnya msh blm melebihi produk impor
Sampai kapaaan bgni terus??
Jgn menunggu kiamat datang
engineers lulusan PTN terkenal, terlalu sibuk menumpuk kekayaan sendiri,korupsi & mengejar harta drpd memajukan teknologi dn ekonomi negerinya????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: