jump to navigation

Cinta & Rahwana 22 Juni, 2014

Posted by husnukusuma in Life.
add a comment

 

Salahkah Rahwana mencintai Sinta? Salahkah Paris mencintai Helent? Apa bedanya? Pertanyaan-pertanyaan ini sepertinya terjawab di buku Sujiwo Tejo, yang saya temui baru-baru ini di Gramedia, judulnya “Rahvayana”. Berikut adalah ulasan spesial saya:

  1. Penulis

    Pertama kali saya mendapat gambaran visual tentang Sujiwo Tejo, adalah saat dia mengisi TED conference (ada di Youtube). Saat itu saya tahu dia pernah kuliah di jurusan Matematika ITB dan Seni Rupa ITB. Fasih berbicara dan berargumen. Impresi saya: ini orang keblinger namun kadang ada benarnya. Lucu dan mampu men-challenge conventional wisdom. Dan masih terlihat guratan-guratan sisi terpelajarnya sepanjang berbicara.

     

  2. Gaya bahasa buku

    Tentu yang kita harapkan dari buku seorang Sujiwo Tejo adalah yang non-conventional. Buku ini tepat seperti itu, unusual, wild, ngawur, sembrono, bijak, mempertanyakan hal yang selama ini kita terima tanpa bertanya, dll. Buku ini tidak seperti buku-buku saya yang lain, yang walau buku popular, tapi berdasarkan riset, tes di lab, observasi, dll., lalu ditulis dengan runtun, teratur, menggunakan index, bantuan visual (seperti peta, gambar), dll. Tidak. Buku ini liar dan kadang tidak masuk akal, dan mungkin memang seperti itulah cinta. Seperti film Fracture (2007) yang dibintangi Anthony Hopkins, perasaan cintanya dikatakan seperti “a dense, crushing… geophysical force, like I’m pinned to the core”. Jika di buku “Why Nations Fail” karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson (Profesor di MIT dan Harvard University), kita dijelaskan asal muasal perbedaan tingkat ekonomi dunia dan dibawa menjelajahi system ekonomi ekstraktif dan inklusif di berbagai negara. Lalu jika di buku ‘Collapse” karya Jared Diamond (Profesor UCLA) kita menjadi tahu bagaimana peradaban kuat masa lampau bisa hancur/berhasil dan kita terbawa ke Montana , Greenland, Easter Island, Anasazi, Maya, Jepang, dll. Maka di buku ini kita dibawa juga ke Ayodya, Mayapada, Borobudur, Manoreh, Bali, Timur Tengah, Perancis, Korea, dll. Tentu gaya bahasanya dengan style masing-masing, hehehe…

     

  3. Ramayana versi embuh

    Untuk memahami buku ini, sebaiknya Anda tahu sedikit tentang cerita Ramayana. Di buku ini Sujiwo Tejo berusaha menceritakan perasaan, pengalaman, dan membela Rahwana. Karakter antagonis yang selama ini kita benci dan salahkan. Tapi salahkah Rahwana? Rahwana amat yakin Sinta adalah titisan dewi Sukasalya, dan sebelumnya Rahwana juga yakin dewi Sukasalya adalah titisan Dewi Citrawati, dan sebelumnya Rahwana juga yakin dewi Citrawati adalah titisan Dewi Widowati. Ya, Rahwana jauh hari juga sudah naksir Sinta. Njlimet memang, dan kita akan menemukan banyak nama wayang bercampur dunia riil yang menunjukkan luasnya wawasan si pengarang.

    Perang demi Cinta: Jika Paris tidak membawa Helent ke Troya, maka perang Yunani – Troya mungkin tidak perlu terjadi. Tapi apa kata ayah Paris? Dia telah berperang ribuan kali, tapi baru kali ini perangnya menjadi agung karena cinta. Cuk, Raja edan, mengorbankan negara demi cinta anaknya? Tapi cerita perang Troya mengundang twist yang lain: Achilles fight for honor (cintanya). Agamemnon fight for power (cintanya). Jadi sebenarnya semua berperang demi cinta. Beda lho sama Rahwana, tidak ada misi fight for honor, fight for power dalam cintanya ke Sinta. Cinta Rahwana adalah pure, hehehe

    Dikatakan dalam sebuah joke bahwa otak kita itu sangat hebat, bekerja terus sejak kita di dalam perut Ibunda, tapi stop bekerja saat kita ujian atau jatuh cinta, hehehe

    Quotes dari buku ini yang paling saya ingat adalah: “Hidup lebih mati tanpa cinta”. Jadi, apa cinta anda? Apakah pekerjaan anda anda cintai? Atau anda sebenarnya hanya zombie yang menunggu waktu pensiun?

    Kahlil Gibran menulis dengan indah dalam bukunya:

Bekerjalah dengan cinta….

Jika engkau tidak dapat bekerja dengan cinta, lebih baik engkau
meninggalkannya…

Dan mengambil tempat didepan pintu gerbang candi-candi,

Meminta sedekah kepada mereka yang bekerja dengan penuh suka cinta…

 

Kahlil Gibran ( Sang Nabi )

 

 

 

 

 

Bilingual dalam Satuan (SI & USCS) 1 Juni, 2014

Posted by husnukusuma in Upstream Oil & Gas.
Tags: , , , , , , , , , ,
add a comment

Di dunia perminyakan, terdapat dua aliran satuan yang digunakan: US customary system (USCS, disebut juga English unit, imperial unit, atau oilfield unit) dan SI (standar internasional). Sejak kecil, di sekolah seperti umumnya di Indonesia, saya menggunakan SI. Namun sejak lulus kuliah dan bekerja, selama bertahun-tahun saya terbiasa dan nyaman menggunakan USCS. Sekarang hampir dua tahun di lokasi kerja baru, kami menggunakan unit SI. Di tulisan ini, saya coba ulas transformasi yang saya alami (biar dramatis dikit, hehehe…)

Pendahuluan

Untuk mengekspresikan suatu quantity atau besaran, kita perlu unit atau satuan. Besaran dasar yang umum adalah massa, temperatur, dan waktu. Di SI, satuannya berturut-turut adalah kilogram, Celcius, dan second (detik). Di USCS: lbm, Fahrenheit, dan second (detik). SI di-develop konsorsium negara-negara yang menginginkan satuan yang presisi, interchangeable, dan mudah dimengerti. Sementara USCS sebenarnya berasal dari English unit lama, di mana saat ini di Inggris sendiri sudah banyak menggunakan SI. Sehingga kurang tepat dinamakan English unit dan nama USCS pun digunakan. Professor Walter Lewin, salah satu dosen Fisika MIT yang sering saya tonton video kuliahnya di YouTube pernah bercanda bahwa English unit itu “uncivilized“, contoh: 1 feet = 12 inch (what?), contoh lain: 1 yard = 3 feet (what??). Hal ini berbeda dengan SI, yang satuannya berbasis 10, seperti 1 meter = 100 cm, yang secara teori, lebih mudah dipahami. Di salah satu forum engineering juga ada engineer Inggris yang berseloroh dulu orang Inggris sedang mabuk waktu membuat English unit. Namun banyak pembelaan terhadap English unit, seperti argument bahwa dengan berbasis 3 dan 4, sebenarnya English unit sama seperti jam dan secara hakekat, manusia itu lebih mudah dengan bilangan kelipatan 3 dan 4. Benarkah demikian? Mari kita lihat:

Aplikasi

Karena Amerika adalah negara yang sangat kuat dalam industri perminyakan, maka mau tidak mau satuan USCS terbawa ke negara-negara penghasil Migas dunia. Beberapa aplikasi satuan antara SI dan USCS saya coba rangkum dalam beberapa hal berikut:

  1. Massa

    Massa dalam English unit cukup tricky dan di sinilah beberapa kesalahpahaman berasal. Massa di SI jelas, kilogram. Di USCS ada dua, yaitu lbm (pound mass) dan slug (akan diterangkan di point 2: percepatan)

     

  2. Percepatan, gravitasi, Gaya

    Dengan hukum Newton: F = m a, dengan F adalah gaya (Newton atau kg m/s2), a adalah percepatan (m/s2, atau lebih tepatnya diucapkan meter per second, per second). Kenapa diucapkan demikian, karena a = (delta v) / (delta t), di mana v mewakili velocity (m/s) yang dibagi dengan waktu (s) menjadi meter per second, per second. Hal ini mereprentasikan perubahan kecepatan terhadap waktu. Jika kita jatuhkan suatu benda secara bebas (tanpa kecepatan awal), maka satu detik kemudian, kecepatannya adalah 9.8 m/s, detik ke-2 kecepatannya = 2 x 9.8 m/s, dst. Seperti kita ketahui, 9.8 adalah konstanta gravitasi di bumi. Bagaimana dengan USCS? Gampang, tinggal konversi 9.81 meter ke feet (karena pembilangnya, s2 adalah sama): 9.81 m = 32.2 feet. Sehingga konstanta gravitasi dalam USCS adalah 32.2 ft/second-per second.

     

    Terkait dengan ini, USCS memiliki satuan bernama slug. Yang memiliki massa exactly 32.2 lbm. Jadi 1 slug = 32.2 lbm. Definisi ini penting karena kembali ke hokum Newton: F = m a, maka 1 lbf (pound force) = 1 lbm x 32.2 ft/s2 atau dapat dikatakan juga, 1 lbf adalah gaya yang diperlukan untuk mempercepat 1 slug sebesar 1 ft/second-per second. Sudah mulai bingung? Selamat !!! ^_^

     

  3. Panjang, Diameter

    Saya melihat, untuk beberapa disiplin seperti struktur dan sipil, meter sangat umum digunakan, jarang sekali menggunakan USCS. Namun di disiplin seperti Piping, USCS sangat sukar digantikan, bahkan prediksi saya, satuan pipa dalam inch akan bertahan sangat lama.

     

  4. Temperatur

    Temperatur adalah satuan yang dapat kita rasakan dan kalibrasi terhadap indra kita. Misalkan kita agak “hangat” kita bisa prediksi badan kita berada di atas 36 atau 37 derajat Celcius dan kita tegaskan dengan pengukuran termometer. Di lapangan saya kadang menyentuh permukaan kompresor untuk mengetahui kondisinya silindernya panas atau normal, jika panas, maka kemungkinan ada valve yang bocor. Juga jika ada blowdown valve yang downstreamnya dingin, maka kemungkinan valve passing (karena efek Joule Thomson). Karena di lapangan kami gunakan Fahrenheit dan saya menjadi terbiasa dan mendevelop sense saya terhadap satuan tersebut. Jika silinder kompresor panas dalam ukuran saya, maka biasanya temperaturnya di atas 250oFahrenheit.

     

    Untuk temperature, saya bisa katakana karena range Fahrenheit lebih lebar dari Celcius, maka untuk pengukuran, lebih akurat. Perlu diketahui 0o Celcius (air mulai membeku) setara 32o Fahrenheit dan 100 o Celcius (air mendidih) setara 212o Fahrenheit. Range antara dua kondisi ini untuk Celcius adalah 100 (100 – 0) dan 180 (212-32) untuk Fahrenheit. Dari sinilah dikatakan range Fahrenheit lebih lebar. Dari definisi ini juga kita bisa konversi dari Celcius ke Fahrenheit tanpa menghafal rumus, tapi mengerti bahwa konsep keduanya berbeda: Celcius menggunakan air murni, Fahrenheit menggunakan air asin (sehingga titik bekunya 0 F lebih rendah dari 0 C). Saya memiliki cara cepat konversi Fahrenheit ke Celcius, yaitu dikurangi 30 lalu dikali ½. Warning: cara ini hanya agak benar untuk range tertentu, yang benar adalah dikurangi 32 lalu dikali 5/9 (= 100/180). Berikut table-nya:

F Celsius, correct Celsius, cara cepat Error, %
10

-12.22222222

-10

18.18%

50

10

10

0.00%

90

32.22222222

30

6.90%

130

54.44444444

50

8.16%

170

76.66666667

70

8.70%

210

98.88888889

90

8.99%

250

121.1111111

110

9.17%

290

143.3333333

130

9.30%

330

165.5555556

150

9.40%

370

187.7777778

170

9.47%

410

210

190

9.52%

450

232.2222222

210

9.57%

490

254.4444444

230

9.61%

  1. Tekanan, Head fluida

    Tekanan adalah hal yang dimana saya sudah membuat habit dengan psi. Saya bisa merinding jika dibilang 1200 psig. Namun bila dibilang 80 barg, saya masih perlu menanamkan itu cukup besar. Baru-baru ini saya review datasheet pompa dan menemukan parameter NPSHa. Di USCS, head dihitung dengan mudah h = (2.31 x p)/sg. Dari mana 2.31? Itu sebenarnya konstanta dengan satuan, yaitu 2.31 feet of water/psi. Di SI, cukup memakai rumus dasar p = rho x g x h, atau h = p / (rho x g). Di bagian seperti drilling, penggunaan psi masih terus digunakan walau di perusahaan asal Perancis, yang merupakan negara motor unit SI. Di beberapa perusahaan infonya digunakan satuan Pascal, yaitu Newton per meter-persegi. Karena 1 Newton sebenarnya “enteng”, lalu dibagi pula ke 1 meter persegi, maka nilainya “kecil” sehingga umumnya digunakan kilopascal agar angkanya tidak terlalu besar, atau bar, yaitu 105 Pascal.

     

Kesimpulan

Bagi saya, kedua satuan ini Ok, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Selama engineer yang menyajikan hasil perhitungan atau mengolah data mampu memilah angka yang tidak masuk akal dan mengerti filosofi dari satuan yang digunakan, maka satuan mana saja yang digunakan tidak menjadi masalah. Rekan–rekan yang bekerja dengan dua satuan, seperti rekan di engineering company yang memiliki client bermacam-macam, harus bisa menjadi bilingual dalam satuan. Tidak hanya melihat hasil konversi, tapi bisa menilai hasil yang muncul di satuan lain. Saya sendiri masih menempelkan tabel konversi di meja kerja, untuk memudahkan mendapatkan “feeling”:

 

 

Konsep Straddle di Sistem Perpipaan (Flange) 30 Januari, 2014

Posted by husnukusuma in Technology, Upstream Oil & Gas.
Tags: , , , ,
3 comments

Straddle dalam bahasa Indonesia berarti “mengangkang”, ya benar, mengangkang seperti naik kuda. Konsep straddle adalah salah satu konvensi yang penting dan diminta di berbagai code (e.g. API 610). Mantra konsep straddle dalam sistem pipa (piping system) adalah “all flange bolt holes shall straddle the centerline“. Ada dua kondisi: horizontal dan vertical, mari kita bahas mulai dari yang mudah dahulu:

Horizontal Flange

Berikut adalah flange di posisi horizontal yang saya gambar:

Dapat dilihat dua bolt di sisi atas mengangkangi atau straddle terhadap centerline (arah axial).

Berikut adalah posisi straddle salah dan benar untuk flange horizontal:

Vertical Flange

Kesepakatan untuk flange vertical, adalah straddle ke arah plant north. Berikut adalah ilustrasinya:

Plant north adalah referensi yang mungkin berbeda dengan true north, untuk memudahkan konstruksi. Kita sering tidak bisa “memaksakan” true north karena kondisi geografis, arah jalan existing, kondisi perairan, dll. Sama seperti rumah, sering tidak tepat menghadap ke arah mata angin.

Tujuan Straddle

Dari berbagai sumber, berikut adalah kenapa kita harus men-straddle lubang bolt di flange:

  1. Konvensi untuk semua pihak

    Zaman sekarang, pemasok barang sering lintas negara (pompa, vessel, dll.), oleh karena itu diperlukan suatu konvensi posisi orientasi lubang flange yang disepakati bersama. Untuk instalasi di tengah laut, spool pipa sudah pre-fabricated di darat (workshop vendor) dan dibawa ke laut untuk dipasang. Nah kalau lubang flange ga match, bisa emosi jiwa gan, hehehe…

  2. Menghindarkan bolt terkena leak. Jika ada bolt di posisi jam 6 dan ada leak fluida, maka bolt jam 6 akan lebih mudah terkena korosi
  3. Distribusi momen

    Bolt juga menerima beban moment, beban ini akan searah dengan centerline. Penggunaan straddle akan membantu mendistribusikan load moment lebih baik (tidak ditahan 1 bolt saja). Seperti ilustrasi di bawah

Nah bagaimana untuk posisi vertical, apakah argument di atas masih berlaku? Ya, tentu saja, karena kalau kita lihat di sebuah platform atau plant, hampir semua peralatan dipasang align dengan plant north, seperti ilustrasi di bawah:

Jadi arah aliran fluida, beban moment, dll, juga akan centerline, sehingga straddle pada bolt akan lebih menjamin integritas system.

Demikian, semoga bermanfaat.

//Balikpapan, 30 Januari 2014

Balikpapan dan Mati Listrik 26 Desember, 2013

Posted by husnukusuma in Uncategorized.
Tags: , ,
1 comment so far

//Balikpapan, 26 Desember 2013

Sudah lebih dari satu tahun saya tinggal di Balikpapan, pindah dari Ibukota Jakarta. Hal yang berbeda di kota Balikpapan adalah jalanan yang relatif lancar (lebih sedikit macet), kota yang bersih, dan berudara segar. Namun ada hal yang tidak sepantasnya terjadi di Balikpapan, yaitu mati listrik yang seringkali terjadi. Sudah wajar jika banyak rumah, toko, maupun mall untuk memiliki genset sendiri, karena mati listrik sudah menjadi kebiasaan. Bahkan saat saya menulis ini, sedang mati listrik.

Hal ini ironis mengingat provinsi Kalimantan Timur dikaruniai begitu banyak kekayaan alam, terutama sumber energi. Provinsi ini adalah eksporter LNG terbesar Indonesia melalui PT Badak di Bontang. PT Badak sudah mendapat gelar bergengsi ISRS7 level 8 yang membuktikan betapa hebatnya manajemen PT Badak dalam hal menangani quality, health, safety, dan environment. Di Kalimantan Timur juga bertebaran perusahaan minyak dan gas (Migas) ternama, seperti Chevron, Total E&P, Pertamina, Medco E&P dan Vico. Lapangan Migas di Kalimantan Timur tersebar dari utara sampai selatan, di darat maupun laut. Selain Migas, batubara di Kaltim juga ditambang berbagai perusahaan, banyak kita jumpai berbagai alat berat di darat dan kapal pengangkut batubara di sepanjang sungai Mahakam.

Sudah wajar kita bertanya, dengan kekayaan alam yang melimpah seperti itu – tidak kalah dari Brunei Darusalam – kenapa menyediakan aliran listrik yang reliable atau handal saja sulit? Sungguh sangat ironis. Padahal dana seharusnya tidak ada masalah. Kekurangan tenaga ahli? Kenapa tidak minta bantuan ke perusahaan kelas dunia yang saya sebut di atas? Saya yakin banyak sekali tenaga ahli di dalam perusahaan tersebut untuk urusan pembangkitan listrik, bahkan kalau perlu, tenaga ahli bidang perawatan juga banyak tersedia di mereka.

Di tengah kota Balikpapan, terdapat pembangkit listrik tenaga diesel yang bising dan membuat getaran yang mengganggu di lingkungan sekitar pembangkit tersebut (dimana banyak warga tinggal). Aneh sekali, di daerah kaya gas bumi, pembangkit menggunakan diesel. Di tengah upaya pemerintah pusat melakukan konversi ke BBG, PLN Balikpapan masih menggunakan diesel.

Jadi dari pandangan masyarakat umum seperti saya, jelas hal ini dikarenakan tidak ada keinginan atau willingness dari Pemerintah dan PLN untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. Saya sudah lama mendengar kondisi Balikpapan yang sering mati yang berarti kondisi seperti ini sepertinya dibiarkan. Saya pernah melihat slide presentasi dari salah satu kementrian di Indonesia yang menyebut angka elektrifikasi di Indonesia sudah cukup tinggi. Sayang, slide tersebut tidak menyebutkan berapa sering mati listrik terjadi.

Di aspek lain yang saya amati, adalah pendidikan masih kurang menjadi fokus. Idealnya Balikpapan adalah Texas-nya Indonesia, kiblat pendidikan Migas berada (karena dekat dengan sumber Migas). Texas memiliki Texas A&M yang harum namanya di industri perminyakan. Balikpapan saat ini sudah memiliki STT Migas, yang diharapkan mampu mencetak Sarjana Perminyakan yang berkualitas dan kompeten. Saya pernah diundang untuk mengisi kuliah tamu di kampus STT Migas dan terenyuh ketika mengetahui mereka tidak memiliki laboraorium dan hanya melihat video untuk praktikum. Sangat jauh dengan kampus ITB yang saya tahu memiliki lab bagus, bisa melakukan simulasi berbagai hal, bahkan analisis core pun bisa.

Harapan penulis, semoga berbagai pihak sadar, lebih berperan dalam memajukan kota Balikpapan dan Kalimantan Timur pada umumnya. Mari!

Bernoulli, Teori Utilitas, dan Gaji 22 September, 2013

Posted by husnukusuma in Life.
Tags: , , ,
1 comment so far

Daniel Bernoulli adalah salah satu fisikawan yang berkontribusi besar pada dunia engineering. Prinsip persamaan Bernoulli untuk dinamika fluida sangat berguna di dunia aerodinamika, oil & gas, dll. Karena pentingnya, persamaan Bernoulli adalah salah satu dari sedikit persamaan yang saya masih hafal sampai sekarang. J

Tidak banyak yang tahu, bahwa Bernoulli juga berkontribusi penting terhadap teori Utilitas (Utility Theory) yang digunakan di dunia ekonomi. Untuk memahami teori ini, mari kita gunakan beberapa kondisi berikut ini:

  • Anita memiliki uang 1 juta, sementara Susan 8 juta. Jika kita memberi mereka tambahan 2 juta, maka Anita akan lebih senang daripada Susan, karena persentasi kenaikan uang Anita lebih tinggi dari Susan.

Kenaikan dengan persentase seperti ini, sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari, misalnya jika ada rekan yang pindah kerja, kita akan bertanya “naik berapa persen?” Setelah mendengar jawabannya, maka kita bisa menilai dan membandingkan dengan kondisi kita sendiri.

Teori utilitas, lebih jauh dibawa Bernoulli ke ranah matematika, menggunakan pendekatan logaritmik untuk nilai utilitas, dengan hasil sebagai berikut:

Dengan menggunakan grafik Bernoulli di atas, maka jika Anita dari memiliki 1 juta (nilai utilitas 10) lalu ditambah 2 juta, menjadi 3 juta (utilitas 48), maka utilitasnya naik 48 – 10 = 38 point. Untuk Susan, kenaikan nilai utilitasnya adalah 100 – 91 = 9 point. Dapat dikatakan, menurut teori utilitas, Anita lebih bahagia sekitar 4 kali lipat daripada Susan.

Pengembangan teori Utilitas adalah Prospect theory, yang dikembangkan peraih nobel ekonomi Daniel Kahneman. Teori ini melengkapi dengan menambahkan nilai referensi dan nilai negative (loss). Dalam 2 contoh di bawah, kita dihadapkan dengan 2 pilihan yang sama nilai utilitasnya:

  • Problem A: Get $900 for sure OR 90% chance to win $1,000. Utilitas $900 atau 90% x $1,000 = $900.
  • Problem B: Lose $900 for sure OR 90% chance to lose $1,000. Utilitas – $900 atau 90% x (- $1,000) = – $900.

Untuk problem A, kita umumnya memilih mendapat dengan pasti uang $900. Dan pada problem B, kita umumnya mengambil pilihan 90% chance to lose $1,000.

Menurut Kahneman, pada kondisi yang baik/mendapat gain (problem A), maka manusia mencari kondisi “aman”, menghindari risiko (risk averse). Sementara jika dihadapkan pada kondisi-kondisi tidak baik (losses), manusia menjadi risk seeking alias nekat.

Hal-hal yang mungkin bisa dipetik dari teori Utilitas adalah:

  1. Tawaran gaji yang sama di suatu perusahaan bisa bernilai utilitas berbeda untuk 2 orang, tergantung reference point-nya (gaji mereka sekarang)
  2. Semakin tinggi gaji Anda, semakin sulit meningkatkan kebahagiaan materi (utilitas)
  3. Pada kondisi tidak baik (kepepet), manusia menjadi risk seeking dan cenderung nekat

Referensi: Buku “Thinking, Fast and Slow”, Daniel Kahneman.

Jodie Foster & Bell Curve 11 September, 2013

Posted by husnukusuma in Life.
Tags: , , , , ,
add a comment

Beberapa waktu yang lalu saya melihat film baru Jodie Foster berjudul Elysium. Jodie adalah salah satu dari sedikit artis yang aktingnya saya suka. Di film itu diceritakan kondisi masa depan bumi, di mana populasi manusia berlebih (over population) dan orang yang super kaya membuat tempat tinggal baru bernama Elysium. Ada adegan yang menarik di mana warga Elysium kadang menggunakan bahasa Perancis, sedang di bumi warga kelas rendah cukup sering menggunakan bahasa Spanyol. Bagi saya ini agak rasis, tapi film ini cukup jeli menggunakan bahasa sebagai simbol status sosial.

Kekayaan yang besar adalah hasil dari usaha yang scalable, untuk memahami hal ini lebih lanjut, mari kita sedikit memahami Bell Curve:

image

Bell curve adalah kurva di cabang statistik yang cukup populer. Kurva di atas saya ambil dari situs “mathisfun”. Data “normal” umumnya bisa ditampilkan dalam bentuk seperti di atas, karena mirip lonceng, makanya dinamai bell curve. Data apa saja yang bisa match dengan distribusi normal? Bisa seperti distribusi tinggi badan siswa, IQ calon mahasiswa, lama penyelesaian suatu project, biaya aktivitas atau barang, atau distribusi diameter pasir di suatu pantai.

Nah, Bell curve ini bisa diubah menjadi “standar”, untuk mengetahui deviasi dari normal.

image

Kurva sebelah kanan adalah hasil olahan lebih lanjut dari data yang kita miliki. Kurva ini lebih bermanfaat untuk teori probabilitas.

Point yang ingin saya ungkapkan dari bell curve adalah:

1. Untuk membandingkan dua populasi, kita membandingkan nilai rata-rata (mean)

Ada contoh yang menarik baru-baru ini untuk hal ini. Ada pertanyaan dari seorang scientist, bunyinya begini
image

Nah hal ini mendapat banyak reaksi, antara lain dari Nassim Taleb:

image

Untuk menerangkan hal ini lebih lanjut, misal SMA A mempunyai nilai rata-rata ujian nasional 60, sedang SMA B 65, tapi ternyata 5 nilai tertinggi individual ujian nasional ada di SMA A. Nah yang memperoleh nilai tertinggi (dan terendah) di ujian inilah yang akan ada di ujung dari Bell curve, disebut tail (ekor), atau extreme. Dan benar kita tidak bisa membandingkan dua sekolah dengan extreme-nya saja.

2. Kekayaan
Kekayaan (materi) adalah hal yang scalable, seperti yang saya tulis di post sebelumnya. Hal ini memungkinkan seseorang sangat kaya, jauh melebihi rata-rata.
Kekayaan berbeda dengan parameter lain, misalnya tinggi manusia. Tinggi manusia adalah jika dibandingkan perbedaannya dari yang paling pendek ke yang paling tinggi paling berbeda beberapa kali lipat saja. Tapi kekayaan tidak. Distribusi kekayan jika di-plot ke grafik bell curve akan menghasilkan mean (rata-rata) di sebelah kiri, sementara tail atau extreme akan berada jauh sekali di sebelah kanan (orang-orang seperti Bill Gates, Warren Buffet, dll.).

Misalkan dua orang (yang dipilih secara acak), diketahui nilai total kekayaan mereka 30 milyar rupiah, kita lalu diminta untuk menilai berapa kekayaan masing-masing orang, nah jawaban yang paling mungkin adalah orang pertama memiliki hampir seluruh 30 milyar tersebut. Namun jika soalnya diubah, diketahui tinggi badan dua orang berjumlah 200 cm, maka kita bisa tebak itu adalah dua orang anak-anak atau bayi dengan orang dewasa. Semoga menjadi jelas di sini, bahwa kekayaan yang bersifat scalable berbeda dengan hal yang non-scalable seperti tinggi badan.

Kembali ke Elysium, tempat tersebut dibuat untuk para manusia super-rich di cerita film tersebut. Dikabarkan ada tempat lain bernama surga yang diperuntukkan untuk para manusia yang kaya amal/pahala. Pahala dalam konsepnya adalah hal yang scalable juga, di Islam ada bulan puasa di mana kita bisa memperoleh malam 1,000 bulan, dll.

Sebagai engineer, kita banyak memakai hal-hal yang non-scalable, salah satu yang saya ingat karena memakai bell curve adalah diameter pasir terproduksi dari reservoir (pada industri oil & gas pasir adalah salah satu masalah yang perlu diatasi). Dengan mengetahui distribusi diameter pasir, maka bisa dipilih ukuran screen agar sebagian besar pasir tidak ikut terproduksi (walau pasir yang kecil/tail tetap keluar).

Menurut studi, disimpulkan bahwa statistik adalah hal yang non-intuitif bagi manusia. Coba saya tanya: apakah Anda pengemudi kendaraan yang baik? Tentu sebagian besar menjawab Iya. Namun hal ini mengabaikan parameter “baik” itu seperti apa? Bagaimana posisi saya di Bell curve pengemudi? Tentu sebagian besar dari kita secara default berada di mean atau rata-rata. Namun mungkin ada beberapa memori Anda yang membandingkan diri Anda dengan orang lain yang rusuh dalam membawa kendaraan membuat kita menyimpulkan diri sendiri lebih baik dari average.

Demikian, semoga kita lebih wise dalam melihat suatu masalah, apakah kita melihat extreme atau average-nya.

Bisnis yang Ideal 14 April, 2013

Posted by husnukusuma in Uncategorized.
1 comment so far

Dikatakan bahwa yang orang yang paling baik adalah yang paling berguna atau bermanfaat bagi orang lain. Memiliki bisnis adalah salah satu cara berguna bagi orang lain (dalam skala yang besar). Sejak zaman kuliah, memiliki bisnis sendiri adalah sebuah cita-cita. Dulu di kuliah manajemen Inovasi, Prof. I Gede Raka meminta kelas untuk maju menulis ide bisnis apa yang mereka miliki. Wow, papan tulis waktu itu dengan cepat terisi penuh (dengan ide-ide ngasal, hehehe).

Seiring waktu, setelah bertahun-tahun meninggalkan idealisme kuliah, berikut adalah beberapa konsep bisnis yang ideal yang saya rangkum dari berbagai sumber:

  1. Scalable

    Konsep ini ada di buku Black Swan-nya Nassim Taleb. Konsep ini cukup sederhana. Misalnya Anda adalah pemotong rambut, maka jika Anda tidak bekerja (memotong rambut), maka tidak ada income yang datang. Atau jika Anda adalah seorang chef di suatu restoran, maka kehadiran Anda secara fisik diperlukan untuk membuat masakan terkenal Anda. Lain halnya dengan band, let’s say Peter Pan, eh Noah, untuk mendengar lagu mereka, kita cukup menggunakan tape (jadul banget ya?) atau mp3 player (ipod, dll). Kriteria kunci untuk scalable adalah leverage. Secara harfiah leverage berarti daya ungkit. Dalam hal ini industri musik memiliki leverage, yaitu alat rekam (CD, mp3, kaset, dll). Ada hal lain yang cukup unik di industri seperti musik, karena leverage yang mereka miliki, misalkan Anda adalah Artis yang baru muncul, saingan Anda selain artis baru lain, juga artis yang sudah ngetop (Britney Spears atau Agnes Monica), artis yang lama (Aerosmith atau Iwan Fals), atau bahkan yang sudah mati (Michael Jackson, atau mungkin juga Beethoven).

    Ciri bidang yang non-scalable sekali lagi adalah kehadiran fisik diperlukan. Ciri yang scalable adalah memiliki leverage (suatu sistem yang mengungkit usaha tersebut).

    Bisakah Anda sebutkan contoh lain untuk konsep ini? J Oh iya, pramugari dan pilot adalah non-scalable.

     

  2. Blue Ocean

    Konsep dari buku terkenal berjudul sama. Jadi analogi untuk konsep ini adalah misalkan kita adalah ikan di laut, memperebutkan suatu mangsa (suatu pasar), dan ada banyak ikan lain memperebutkan mangsa itu (saingan usaha), maka sesama ikan akan saling mencederai (berkompetisi) dan darah dari ikan-ikan membuat laut menjadi merah (red ocean). Di tempat lain, ada ikan yang mangsanya banyak, dan saingan sedikit atau tidak ada, tidak terjadi saling mencederai sesama ikan dan lautnya biru (blue ocean strategy).

    Intinya, milikilah bisnis di blue ocean, di mana service kita spesifik atau inovatif, belum banyak atau tidak ada pesaing. Contoh baik dari Blue Ocean adalah Google, di mana di pangsa search engine, nyaris tidak ada persaingan berarti dari pesaingnya. Atau beberapa perusahaan engineering kecil yang saya tahu juga tampak bergerak di area Blue Ocean.

     

  3. Technology Push & Market Pull

    Konsep ini saya dapat di kuliah yang saya ceritakan di atas. Prof. Gede Raka menggambar seperti ini di papan tulis:

    Seperti saya terangkan di posting yang dulu, contoh dari market pull adalah beras, bensin/solar, dll. Contoh dari technology push adalah Windows terbaru, Android /iPhone/BB terbaru, dll. Sisi Technology push sangatlah kental dengan inovasi, namun di balik itu terdapat potensi keuntungan yang menarik juga. Coba lihat lampu di atas Anda, mungkin sebagian sekarang sudah menggunakan lampu hemat energi, dan yang baru adalah lampu “torpedo” yang bentuknya muter-muter. Ini juga salah satu bentuk technology push. Di mana ada celah untuk improvement, di situ technology push siap mengisi.

  4. Irisan antara passion, skill, dan Market (kemampujualan)

    Saya lupa konsep ini dari mana, kalau tidak salah dari salah satu audio book yang saya dengar. Intinya adalah, idealnya, kita menggeluti bidang yang sesuai passion dan skill/keahlian, dan mampu dijual. Misalkan passion Anda adalah menjadi pelukis, tapi skill Anda adalah bela diri, dan pekerjaan sebagai penjual bakso. Kan kurang nyambung, hehehe… Kalau kita lihat misalnya Steve Jobs, unsur passion, skill, dan marketnya sepertinya cocok.

    Ngomong-ngomong tentang skill, sebenarnya bisa dilatih, tapi beberapa orang sudah kadung masuk ke satu jurusan kuliah yang mungkin kurang sesuai passion-nya. Saya tahu beberapa teman yang berhenti kuliah karena (mungkin) hal ini.

    Tentang passion, kalau kita merujuk ke 8th habit, yaitu ikuti “your voice” atau panggilanmu. Maka ini adalah passion di level paling tinggi. Di mana idealisme berdiri tegak. Saya iri dengan orang-orang yang sudah menemukan dan mengikuti panggilan mereka, seperti dokter yang memilih ke Papua, relawan perang, dll.

Jadi kalau boleh saya simpulkan, bisnis yang ideal adalah: Yang scalable, di wilayah blue ocean, bidang technology push, dan di area yang merupakan irisan antara passion, skill, dan market availability. Terlalu banyak dipikir ya? Some might say “just do it”. Kata seorang pengusaha terkenal “pendidikan adalah racun”, maka dia sekolahkan anak2nya tidak terlalu tinggi. Mungkin agar menjadi risk taker kali ya?

Statistik menyatakan bisnis baru dan berhasil survive adalah hal yang berkemungkinan kecil. Yang gagal jauh lebih banyak. Di buku Antifragile, Nassim Taleb menyebutkan kita semua harus berterimakasih juga ke yang gagal-gagal ini. Karena mereka adalah sumber dari “antifragility” ekonomi. Saya setuju sekali. Terimakasih para pemberani yang sudah mencoba berbisnis.

 

 

Buku dan Penulis (yang memengaruhi saya) 24 Maret, 2013

Posted by husnukusuma in Life.
Tags: , , , ,
add a comment

Apakah Anda ingat adegan di film Troy, dimana Achilles (yang diperankan Brad Pitt) akan menyerang kota Troy melalui pantai? Dia bersama pasukannya berniat membuka jalan bagi pasukan lain dan risikonya sangat besar. Dengan gagah Achilles menginspirasi pasukannya. Dia berteriak “My brothers of the sword! I would rather fight beside you than any army of thousands! Let no man forget how menacing we are, we are lions! Do you know what’s waiting beyond that beach? Immortality! Take it! It’s yours!” Saya yang menonton saja serasa mau ikut berperang🙂. Tentunya immortality dalam hal ini adalah nama yang terukir dalam sejarah, karena Achilles tahu dia akan mati dalam perang ini.

Cerita tentang Achilles masih bisa kita nikmati sampai sekarang karena seorang penulis. Banyak kisah lain yang menarik disampaikan oleh para penulis, seperti Mahabarata, kisah Marco Polo, dll. Beberapa hari lalu saya baru tahu ternyata yang paling sakti di perang Baratayuda adalah Adipati Karna dan Marco Polo pernah mengunjungi Cina. Semua karena ada yang menulis kisah tersebut.

Posting kali ini akan menguraikan beberapa buku yang menemani momen senggang saya:

Di akhir masa kuliah, saya satu kos dengan mahasiswa generasi tua yang gemar membaca. Salah satu bukunya adalah “How the mind works” karya Steven Pinker, buku psikologi populer yang mengawali ketertarikan saya terhadap behavioral psychology. Kemudian saya membeli sendiri buku Freakonomics yang membahas behavioral economics.

Lalu ada satu buku yang unusual, yaitu Black Swan karya Nassim Taleb. Saking sukanya, saya beli semua buku Taleb, fooled by randomness, bed of Procrustes, dan terakhir Antifragile. Saya juga suka semua buku Malcolm Gladwell, punya lengkap, termasuk satu hadiah dari rekan di Medco.

Buku psikologi popular terbaik yang pernah saya baca adalah The Invisible Gorilla. Genius!

Bukunya Pak Daniel Kahneman juga bagus, thinking fast, thinking slow. Kalau lihat dia bicara dengan Nassim Taleb di YouTube, terlihat beliau lebih bijaksana, ya mungkin karena lebih tua juga sih.

Buku Science

Ada buku keren berjudul Collapse yang bercerita tentang bagaimana peradaban lama hancur. Istimewa sekali karena level of detail dari si pengarang, seorang profesor Geografi. Bagaimana dia melakukan riset begitu memukau.

Buku science lain yang saya suka adalah buku Stephen Hawking, terutama yang bercerita kehidupan berbagai matematikawan dunia, seperti Leonhard Euler, Riemann, dan tentu saja, yang terbaik: Gauss.

Ya itulah sebagian buku-buku yang ada di lemari saya. Saya berpendapat, jika Anda tahu, sebaiknya dituliskan.

Ada artikel baru-baru ini saya baca, yang memuat surat-surat kekaguman yang dikirimkan penulis ke penulis yang lain, karena dikatakan bahwa sebenarnya writers are the ultimate readers.

image

# ditulis sepenuhnya di HP ^_^

Microsoft Word for Engineering Report 18 Maret, 2013

Posted by husnukusuma in Technology.
Tags: , , , , , ,
2 comments

Posting ini ditujukan untuk rekan-rekan yang sering membuat report. Bagaimana memaksimalkan MS Word untuk membuat report yang rapi dan berkelas.

Ada beberapa hal yang umum ditemui dalam report yang baik (table of contents, figures, equation, dll), dan akan dibahas dalam blog ini. Kita akan belajar membuat style dan memberinya short cut. Hal ini sangat bermanfaat jika kita ingin fokus kepada content report kita dan tidak dipusingkan dengan posisi paragraph yang meleset atau tidak sesuai dengan keinginan kita.

Kita juga akan belajar menggunakan quick parts untuk mengotomasi beberapa bagian yang umum dalam report kita, seperti judul, nomor dokumen, dll. Hal ini akan memudahkan jika kita ingin memperbaiki bagian tersebut, cukup ganti sekali, di mana saja, seluruh bagian yang lain akan secara otomatis ter-update.

Requirements: Komputer dengan MS Word, listrik, jari-jemari, oksigen, dll… ^_^

Baiklah, langsung saja:

  1. Membuat Style dengan short cut

    Mulai dengan blank sheet atau template yang sudah Anda miliki. Klik tombol kecil di bawah icon “Change Styles” (dikotaki warna hijau):

    Akan muncul box Styles seperti ini:

    Mulailah mengetik, lalu block (highlighted) semuanya, misalnya seperti ini:

    lalu di-blok:

    Lalu klik icon “multilevel list” (box hijau), seperti di bawah:

    Pilih yang list seperti ini:

    Tulisan akan menjadi:

    Untuk nomor dua dan tiga, tendang ke kanan dengan klik icon “increase indent”:

    Sampai menjadi seperti ini (ulangi sekali lagi untuk yang sub kedua):

    Blok di tulisan Bagian 1 saja, klik kanan, akan muncul menu, pilih Styles > Save Selection as a New Quick Style…:

    Lalu akan muncul dialog box seperti ini: Ganti namanya menjadi sesuai yang Anda suka (contoh di sini _level1). Saya sarankan beri garis bawah di depan namanya agar muncul di urutan teratas di Styles:

    Lalu klik tombol “Modify”, akan muncul berbagai pilihan, klik tombol “Format” dan klik pilihan “Shortcut key”


    Akan muncul dialog box seperti ini: Isi new shortcut key dengan kombinasi yang diinginkan, pada contoh ini saya isi dengan kombinasi Ctrl 1, lalu kllik tombol Assign, lalu Close:

    Selamat! Anda telah membuat style baru dengan sukses jika terlihat di panel styles:

    Lakukan hal yang sama untuk level2 (dengan shortcut Ctrl 2) dan level3 (shortcut Ctrl 3):

    Untuk isi paragraph, misalnya seperti ini:

    Highlighted isi paragraph Anda dan buat 3 styles baru untuk paragraph Anda (saya namai _content1 untuk paragraph bagian 1 dengan shortcut Ctrl + Alt + 1, dst.), sampai menjadi sbb.:

    UPDATE STYLE:

    Jika Anda tidak sreg dengan posisi style (atau font, ukuran font, warna,dll) Anda bisa dengan mudah meng-updatenya: Misalnya posisi sub-sub bagian 1, ingin digeser kanan sedikit menjadi seperti ini:

    Highlight bagian yang berubah, klik kanan, dan pilih “Update _level3 to Match Selection”, otomatis semua bagian yang menggunakan style tersebut ter-update.

    Selamat! Anda telah selesai membuat 6 styles. Silahkan bermain-main dengan shortcut yang sudah dibuat.

  2. Membuat Table of contents dari Style

    Jika sudah selesai membuat styles, Anda bisa menghubungkannya dengan table of contents (TOC). Caranya sbb.:

    Klik icon Table of Contents:

    Pilih Insert Table of Contents

    Akan muncul suatu dialog box, pilih Options:

    Akan muncul dialog box. Isi TOC level yang sesuai, seperti ini:

    Klik Ok dua kali.

    Akan muncul TOC secara otomatis seperti ini:

    Note: cara yang sama dapat digunakan untuk insert figures, tables, atau equation. Namun kita harus lebih dahulu memberi Caption pada setiap item figure/tables/equation-nya.

  3. Smart update dengan quick parts

    Seringkali kita menggunakan beberapa hal yang berulang, seperti judul, nomor, dll.

    Untuk itu gunakan Document Property yang ada di Tab Insert > Quick Parts

    Dalam contoh ini, saya akan memasukkan Subject: Akan muncul holder seperti ini:

    saya edit menjadi seperti ini

    Coba masukkan lagi quick part “Subject” di tempat lain di dokumen Anda, akan menghasilkan isi yang sama. Dan jika kita ubah di salah satu holder, semua holder yang lain akan terupdate isinya.

    Demikian, selamat mencoba…

Solar Water Heater, Deskripsi dan Instalasi 9 Maret, 2013

Posted by husnukusuma in Life, Technology.
Tags: , , , , , , , ,
7 comments

Kali ini kita akan membahas teori dan bagaimana cara instalasi pemanas air surya, atau bahasa Inggrisnya solar water heater (SWH). Saya dan dua orang teman pernah membuat dua unit SWH sebagai bahan tugas akhir di kampus dulu. Kami membuat, memprediksi performansi, dan melakukan pengujian performansi SWH yang kami buat. [Dua rekan saya tersebut, Adi Prasetyo, saat ini bekerja sebagai drilling engineer di Energi Mega Persada dan Imam Wicaksono, sudah menjadi bos di Chevron Pacific Indonesia.]

DESKRIPSI

Solar water heater adalah pemanas air dengan menggunakan energi surya. Terdapat beberapa jenis SWH, yang closed loop dan open loop. Di sini kita hanya membahas yang open loop saja, di mana air yang dipanaskan langsung digunakan pengguna. Berikut adalah skema bagaimana SWH bekerja:

Penjelasan: Terdapat dua komponen utama SWH (saya highlighted warna kuning): Tanki dan Kolektor. Pertama kali seluruh bagian tanki dan kolektor kita isi semua dengan air dingin. Kolektor adalah bagian utama dalam menangkap radiasi matahari dan dikategorikan sebagai heat exchanger. Kolektor terbuat dari tube-tube (pipa kecil) yang diberi plat logam diantaranya. Tube dan plat diusahakan memiliki konduktivitas termal yang tinggi. Plat ini istilah ilmiahnya adalah extended surface. Karena Q (perpindahan panas) adalah fungsi dari luas permukaan (A).

Seiring waktu, temperatur air di kolektor semakin tinggi, sementara temperatur air di tanki tetap dingin. Perlu diketahui bahwa density (kerapatan) air semakin rendah dengan naiknya temperatur. Hukum alam menyatakan bahwa gravitasi akan menyebabkan fluida berdensitas rendah (panas) akan berada di atas dan yang dingin akan di bawah. Fenomena ini bisa Anda lihat jika memesan es teh yang airnya masih panas. Akan terlihat (jika gelasnya transparan dan ada cahaya), pergerakan lelehan es menuju dasar gelas. Hal yang sama terjadi di SWH, air panas akan bergerak ke atas (melalui pipa kecil di sisi kanan) dan air dingin dari tanki akan mengganti posisinya lewat pipa di sebelah kiri. Perputaran ini (air dari tanki ke kolektor dan sebaliknya) terjadi terus-menerus sampai kesetimbangan termal tercapai. Efek pergerakan karena perbedaan densitas ini dinamai efek thermosyphon.

Berikut adalah tampak 3D model dari kolektor:

INSTALASI

Jika dulu kami membuat sendiri SWH, sekarang karena Alhamdulillah punya duit, maka saya beli saja yang ada di pasaran. Salah satu yang cukup bagus adalah merk Solahart, karena tankinya terbuat dari marine grade steel (semoga bisa awet).

Instalasi Piping: Instalasi piping adalah hal yang perlu diperhitungkan dalam pemasangan SWH. Idealnya Anda sudah mempersiapkan piping air panas dan dingin semenjak rumah atau tempat tinggal Anda dibuat.

Pipa air panas (warna hijau) berbeda dari pipa air dingin (putih), karena perlu dibuat khusus agar tidak mudah mlenyok (thermal expansion) dan tidak mudah melepas panas ke lingkungan. Oleh karena itu pipa air panas memiliki “inti” di tengah. Berikut adalah penampakan ketika sudah diplester dan diberi keramik:

Instalasi SWH: Begitu piping Anda siap, maka tinggal telpon dealer SWH dan beli yang cocok. Harga SWH relative mahal dibanding pemanas air gas atau electric. Saya sudah baca berbagai paper studi ke-ekonomisan SWH, dan return-nya sekitar 4 tahun (dibanding elektrik). SWH adalah benda termahal di rumah saya, bersaing ketat dengan Sofa.

Di atas adalah gambar sewaktu unit datang ke rumah dan dipasang.

Hal-hal yang perlu diperhatikan jika ingin memasang SWH:

  1. Jumlah pengguna mempengaruhi kapasitas yang diperlukan: Rule of thumb-nya adalah 30 – 60 ltr/orang/hari. Ada juga yang menghitung 1–1.5 m2 kolektor area per orang.
  2. Tekanan air: Tekanan yang cukup perlu untuk naik ke atas dan membuka check valve di outlet kolektor. Data tekanan yang dibutuhkan ada di datasheet tiap SWH, tapi tukang hanya perlu membuka keran untuk mengetahui cukup/tidak. Jika deras dia langsung bilang oh cukup ini Pak…
  3. Teknologi: Yang dijelaskan di atas adalah flat plate kolektor (kolektor pelat datar). Sekarang banyak yang jual yang jenis vacuum tube yang dinilai lebih efisien.

Oh ya, kolektor SWH bekerja dengan menciptakan green house effect mini. Radiasi matahari sumbernya sangat panas dan sampai ke bumi dengan panjang gelombang (wavelength) yang pendek. Karena panas bumi tidak sama dengan matahari, maka radiasi yang dipancarkan bumi wavelength-nya panjang. Gas rumah kaca di atmosfer tidak mau meneruskan radiasi dengan wavelength yang panjang, sehingga radiasi bumi dipantulkan kembali dan membuat bumi “hangat”. Kaca yang ditempatkan di atas kolektor juga berfungsi sama dengan gas rumah kaca, membuat area di dalam kolektor semakin panas.

Demikian, silahkan hubungi saya jika perlu bantuan. ^_^

Salah satu SWH buatan kami doeloe:

%d blogger menyukai ini: